KERANGKA TEORI ATAU LANDASAN TEORI
Disusun Guna
Memenuhi Tugas
Pada Mata Kuliah
Metodologi Penelitian
Dosen Pembimbing : Tarmidzi M.Si

Oleh :
Ulyani Rosa (2013114218)
Arina Muna (2013114224)
Risqi
Fajriani (2013114232)
Ahmad
Wasmari (2013114241)
M.
Manarul Hidayat (2013114257)
Lia
Maulidah Syamsiyah (2013114252)
Kelas : G
PROGRAM
STUDI EKONOMI SYARIAH
JURUSAN
SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM
SEKOLAH
TINGGI AGAM A ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2016
KATA
PENGANTAR
Segala
puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam yang senantiasa memberikan rahmat dan
karunia-Nya, baik yang tampak maupun yang tidak tampak oleh panca indera
manusia. Sholawat serta salam mudah-mudahan senantiasa tercurahkan kepada Nabi
Muhammad SAW, semua anggota keluarga, serta para sahabatnya yang telah
memberikan seluruh hidup mereka untuk berjuang di jalan Allah SWT.
Syukur Alhamdulillah
kami ucapkan kehadirat Ilahi Rabbi yang telah memberikan kemampuan, sehingga
kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang membahas tentang “Kerangka
Teori atau Landasan teori”.
Meskipun makalah kami telah selesai, namun
kami mengakui dengan sepenuh hati bahwa makalah kami ini masih jauh dari
sempurna, karena sementara hanya itulah kemampuan kami. Oleh karena itu, kami
membuka diri terhadap semua kritik atau masukan demi perbaikan dan
penyempurnaan makalah ini. Demikian yang dapat kami sampaikan, terimakasih atas
perhatian saudara.
Penyusun
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR..................................................................................... 2
DAFTAR ISI..................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang.............................................................................. 4....
B.
Rumusan Masalah........................................................................ 4
C.
Tujuan...........................................................................................
5
BAB II PEMBAHASAN
LANDASAN
/ KERANGKA TEORI
1.
Pengertian Teori........................................................................... 5
2.
Fungsi dan Peranan Teori........................................................... 6
3.
Teknik Penyusunan Landasan/Kerangka Teori....................... 6
HIPOTESIS
1.
Pengertian Hipotesis..................................................................... 8
2.
Kegunaan Hipotesis..................................................................... 8
3.
Macam – Macam Hipotesis.......................................................... 9
1.
Hipotesis Deskriptif........................................................... 9
2.
Hipotesis Komparatif...................................................... 10
3.
Hipotesis Asosiatif........................................................... 11
4.
Perumusan Hipotesis.................................................................. 11
BAB III PENUTUP
Kesimpulan........................................................................................ 15
Saran.................................................................................................. 16....
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam rangka menghadirkan suatu
karya ilmiah yang memiliki bobot tinggi, khususnya yang terkait dengan
penelitian, maka disinilah pentingnya landasan teori sebagai rujukan dalam
melakukan sebuah penelitian. Seorang peneliti akan merasa terbantukan dengan
adanya teori, karena hal tersebut akan menjadi titik acuan dalam proses penelitiannya.
Sehingga dengan adanya referensi tersebut maka penelitian yang dilakukan bukan
hal coba-coba yang pada ujungnya menghasilkan kekeliruan atau lazimnya lebih
dikenal dengan istilah trial and error. Karena hal tersebut merupakan inti sari
dari teori yang telah dikembangkan yang dapat mendasari perumusan hipotesis.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
pengertian Teori?
2.
Apa tugas fungsi dan peranan Teori dalam
penelitian?
3.
Bagaimana
cara penyusunan kerangka teori?
4.
Apa Pengertian hipotesis?
5.
Apa Tujuan dan kegunaan Hipotesis?
6.
Apa saja macam-macam hipotesis?
7.
Bagaimana cara merumuskan hipotesis?
C.
Tujuan
1.
Untuk
Mengetahui pengertian Teori.
2.
Untuk
Mengetahui tugas fungsi dan peranan
Teori dalam penelitian.
3.
Untuk
Mengetahui cara penyusunan kerangka
teori.
4.
Untuk
Mengetahui Pengertian hipotesis.
5.
Untuk
Mengetahui Tujuan dan kegunaan
Hipotesis.
6.
Untuk
Mengetahui macam-macam hipotesis.
7.
Untuk
Mengetahui cara merumuskan hipotesis.
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Pengertian Teori
Salah satu unsur
terpenting dalam penelitian yang memiliki peran sangat besar dalam pelaksanaan
penelitian adalah teori. Karena teori dengan unsur ilmiah inilah yang akan
mencoba menerangkan fenomena-fenomena sosial yang menjadi pusat perhatian
peneliti ( Masri Singarimbun & Sofyan Efendi, 1989:37). Menurut Kerlinger
(1973:9), teori adalah serangkaian asumsi, konsep, konstrak, definisi dan
proposisi untuk menerangkan fenomena sosial secara sistematis dengan cara
merumuskan hubungan antar variabel. Berdasar pengertian tersebut, definisi
teori mengandung tiga hal. Pertama, teori adalah serangkaian proposisi antar
konsep-konsep yang saling berhubungan. Kedua, teori merangkan secara sistematis
atau fenomena sosial dengan sosial dengan cara menentukan hubungan antar
konsep. Ketiga, teori menerangkan fenomena-fenomena tertentu dengan cara
menentukan konsep mana yang berhubungan dengan konsep lainnya dan bagaimana
bentuk hubungannya.
Dalam menyusun kerangka
teori menurut Prof. Noeng Muhadjir, dalam makalahnya yang berjudul ”Proses
Mengkonstruksi Teori dan Hipotesis”, bagian teori harus menampilkan bagian yang
bulat yang disajikan secara holistik, tetapi juga bukan sekedar penyajian
konsep yang terpilah dan terpecah-pecah, sehingga konsep tersebut akan lebih
menarik untuk dikaji.
Tata fikir yang ditawarkan
dalam penyusunan kerangka teori menggunakan logika reflektif, yaitu logika yang
mondar-mandir antara proses berfikir induktif dan proses berfikir deduktif, dan
tidak dipermasalahkan dari mana harus dimulai. Alat berfikir bukan hanya
sekedar mendasarkan pada generalisasi dari rerata keberagaman individul dan
rerata frekuensi kejadian, tetapi juga konteks, esensi, indikasi pragmatik,
fungsional, atau yang lainnya.
Oleh karena itu suatu
teori tampil sebagai abstraksi, simplifikasi atau idealitas dari fenomena,
mungkin merupakan eksplanasi dan mungkin pula merupakan penafsiran atas empiri.
Pada dasarnya teori mengandung beberapa hal antara lain: asumsi, postulat, tesis,
hipotesis, proposisi dan sejumlah konsep. Dalam teori juga terdapat idealisasi
tentang tata hidup kemasyarakatan atau tata hidup alam semesta. Validasi suatu
teori diuji atas kemampuannya memberikan evidensi
empirik.
2.
Fungsi dan Peranan Teori
Sesuai dengan definisi
Kerlinger (1973), bahwa teori adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi,
dan proporsi yang menyajikan gejala-gejala sistematis, merinci hubungan antar
variabel-variabel, dengan tujuan meramalkan dan menerangkan gejala tersebut,
maka teori memiliki fungsi antara lain:
a. Menyediakan kerangka
konsepsi penelitian, dan memberikan pertimbangan perlunya penyelidikan
b. Melalui teori kita dapat
membuat pertanyaan yang terinci untuk penyidikan.
c. Menunjukkan hubungan antar
variable yang diteliti.
d. Kajian pustaka meliputi
pengidentifikasian secara sistematis, penemuan, dan analisis dokumen-dokumen
yang memuat informasi yang berkaitan dengan masalah penelitian.
3.
Teknik Penyusunan Landasan/Kerangka Teori
Ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan oleh peneliti dalam menyusun kerangka/ landasan teori,
antara lain:
a. Kerangka teori sebaiknya
menggunakan acuan yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti dan
acuan-acuan yang berupa hasil penelitian terdahulu (bisa disajikan di Bab II
atau dibuat sub-bab tersendiri).
b. Cara penulisan dari subbab
ke subbab yang lain harus tetap mempunyai keterkaitan yang jelas dengan
memperhatikan aturan penulisan pustaka.
c. Untuk memperoleh hasil
penelitian yang baik, studi pustaka harus memenuhi prinsip kemutakhiran dan
keterkaitannya dengan permasalahan yang ada. Apabila menggunakan literatur
dengan beberapa edisi, maka yang digunakan adalah buku dengan edisi terbaru,
jika referensi tidak terbit lagi, referensi tersebut adalah terbitan terakhir.
Dan bagi yang menggunakan Jurnal sebagai referensi pembatasan tahun terbitan
tidak berlaku
d. Semakin banyak sumber
bacaan, maka kualitas penelitian yang akan dilakukan semakin baik,
terutama sumber bacaan yang terdiri dari teks book atau sumber lain
misalnya jurnal, artikel dari majalah, Koran, internet dan lain-lain.
Pedoman kerangka teori di atas berlaku untuk semua jenis
penelitian.
Teori bukan merupakan pendapat pribadi (kecuali pendapat tersebut sudah
ditulis di BUKU). Pada akhir kerangka teori bagi penelitian korelasional disajikan
model teori, model konsep (apabila diperlukan) dan model hipotesis pada subbab
tersendiri, sedangkan penelitian studi kasus cukup menyusun Model teori dan
beri keterangan. Model teori dimaksud
merupakan kerangka pemikiran penulis dalam penelitian yang sedang dilakukan.
Kerangka itu dapat berupa kerangka dari ahli yang sudah ada, maupun kerangka
yang berdasarkan teori-teori pendukung yang ada. Dari kerangka teori yang sudah
disajikan dalam sebuah skema, harus dijabarkan jika dianggap perlu memberikan batasan-batasan,
maka asumsi-asumsi harus dicantumkan.[1]
1.
Pengertian
Hipotesis
Kerlinger
(1973) menyatakan hipotesis adalah pernyataan yang bersifat terkaan dari
hubungan antara dua atau lebih variable. Dari arti katanya, hipotesis memang
dari dua penggalan. Kata “HYPO” yang artinya “DI BAWAH” dan “THESA” yang
artinya “KEBENARAN” jadi hipotesis yang kemudian cara menulisnya disesuaikan
dengan ejaan bahasa Indonesia menjadi hipotesa, dan berkembang menjadi
hipotesis. Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah
penelitian. Dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan
pada teori dan belum menggunakan fakta. Oleh karena itu, setiap penelitian yang
dilakukan memiliki suatu hipotesis atau jawaban sementara terhadap penelitian
yang akan dilakukan. Dari hipotesis tersebut akan dilakukan penelitian lebih lanjut
untuk membuktikan apakah hipotesis tersebut benar adanya atau tidak benar. Atau
bisa dikatakan bahwa Hipotesis atau
hipotesa adalah jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga
karena masih harus dibuktikan kebenarannya.[2]
Dalam penelitian yang menggunakan analisis
statistik inferensial, terdapat dua hipotesis yang perlu diuji, yaitu hipotesis
penelitian dan hipotesis statistik. Menguji hipostesis penelitian berarti
menguji jawaban yang sementara itu apakah betul-betul terjadi pada sampel yang
diteliti atau tidak. Kalau terjadi berarti hipotesis penelitian terbukti dan
kalau tidak berarti bahwa tidak terbukti. Selanjutnya menguji hipotesis
statistik, berarti menguji apakah hipotesis penelitian yang telah terbukti atau
tidak terbukti berdasarkan data sampel itu dapat diberlakukan pada populasi
atau tidak.
2.
Kegunaan Hipotesis
Walaupun
hipotesis penting sebagai arah
dan pedoman
kerja dalam penelitian,
tidak semua penelitian mutlak harus memiliki hipotesis. Penggunaan hipotesis
dalam suatu penelitian didasarkan pada masalah
atau tujuan penelitian.
Dalam masalah atau tujuan penelitian tampak apakah penelitian
menggunakan hipotesis atau tidak. Contohnya yaitu Penelitian eksplorasi yang tujuannya untuk
menggali dan mengumpulkan sebanyak mungkin data atau informasi
tidak menggunakan hipotesis. Hal ini sama dengan penelitian
deskriptif, ada yang berpendapat tidak menggunakan hipotesis sebab
hanya membuat deskripsi atau
mengukur secara cermat tentang fenomena
yang diteliti,[3]
tetapi ada juga yang menganggap penelitian deskriptif dapat menggunakan
hipotesis. Sedangkan, dalam penelitian penjelasan yang bertujuan menjelaskan
hubungan antar-variabel
adalah keharusan untuk menggunakan hipotesis.[4]
Perumusan yang kita lakukan sebenarnya sudah memiliki jawaban dari
pertanyaan yang dibuat di perumusan masalah. Namun jawaban tersebut belum
disertai data dilapangan sehingga harus diverivikasi dilapangan ketika
melakukan penelitian. Dari perumusan masalah tersebut maka akan muncul
hipotesis yang memberikan jawaban sementara yang cepat dengan berpatokan pada
fakta-fakta, teori, dan penelitian-penelitian sebelumnya di landasan teori. Kegunaan
hipotesis antara lain :
- Hipotesis memberikan penjelasan sementara tentang gejala-gejala serta memudahkan perluasan pengetahuan dalam suatu bidang.
- Hipotesis memberikan suatu pernyataan hubungan yang langsung dapat diuji dalam penelitian.
- Hipotesis memberikan arah kepada penelitian.
- Hipotesis memberikan kerangka untuk melaporkan kesimpulan penyelidikan.
3.
Macam Macam
Hipotesis
Macam macam
hipotesis dalam penelitian, sebagai berikut :
1. Hipotesis Deskriptif
Pengertian Hipotesis Deskriptif adalah dugaan
terhadap nilai satu variabel dalam satu sampel walaupun di dalamnya bisa
terdapat beberapa kategori. Hipotesis deskriptif ini merupakan salah satu dari
macam macam hipotesis.
Contoh :
Ho : Kecenderungan masyarakat memilih warna
mobil gelap.
Ha : Kecenderungan masyarakat memilih warna
mobil bukan warna gelap.
2. Hipotesis Komparatif
Pengertian Hipotesis Komparatif adalah dugaan
terhadap perbandingan nilai dua sampel atau lebih. Hipotesis komparatif merupakan
salah satu dari macam macam hipotesis. Dalam hal komparasi ini terdapat
beberapa macam, yaitu :
(1) Komparasi berpasangan (related)
dalam dua sampel dan lebih dari dua sampel (k sampel).
(2) Komparasi independen dalam dua sampel dan
lebih dari dua sampel (k sampel).
Contoh :
Sampel Berpasangan, komparatif dua sampel
Ho : Tidak terdapat perbedaan nilai penjualan
sebelum dan sesudah ada iklan.
Ha : Terdapat berbedaan nilai penjualan sebelum
dan sesudah ada iklan
Sampel Independen, komparatif tiga sampel
Ho : Tidak terdapa perbedaan antara birokrat,
akademisi dan pebisnis dalam memilih partai.
Ha : Terdapa perbedaan antara birokrat,
akademisi dan pebisnis dalam memilih partai.
3. Hipotesis Asosiatif
Pengertian Hipotesis Asosiatif adalah dugaan
terhadap hubungan antara dua variabel atau lebih. Hipotesis asosiatif merupakan
salah satu dari macam macam hipotesis.
Contoh :
Ho : Tidak terdapat hubungan antara jenis
profesi dengan jenis olah raga yang disenangi.
Ha : Terdapat hubungan antara jenis profesi
dengan jenis olah raga yang disenangi.
4. Perumusan
Hipotesis
Nazir (2005: 154) menyatakan bahwa menemukan suatu hipotesis
merupakan kemampuan peneliti dalam mengaitkan masalah-masalah dengan
variabel-variabel yang dapat diukur dengan menggunakan suatu kerangka analisis
yang dibentuknya. Peneliti harus memfokuskan permasalahan sehingga
hubungan-hubungan yang terjadi dapat diterka. Menurut Nazir (2005: 154) dalam
menggali hipotesis penelitian, peneliti harus: Mempunyai banyak informasi
tentang masalah yang ingin dipecahkan dengan jalan banyak membaca
literatur-literatur yang ada hubungannya dengan penelitian yang sedang
dilaksanakan; Mempunyai kemampuan untuk memeriksa keterangan tentang
tempat-tempat, objek-objek serta hal-hal yang berhubungan satu sama lain dalam
fenomena yang sedang diselidiki; Mempunyai kemampuan untuk menghubungkan suatu
keadaan dengan keadaan lainnya yang sesuai dengan kerangka teori ilmu dan
bidang yang bersangkutan.
Tahap-tahap pembentukan/perumusan
hipotesis pada umumnya sebagai berikut:[5]
- Penentuan masalah.
Dasar
penalaran ilmiah
ialah kekayaan pengetahuan
ilmiah yang biasanya timbul karena sesuatu keadaan atau peristiwa yang terlihat
tidak atau tidak dapat diterangkan berdasarkan hukum atau teori atau dalil-dalil ilmu yang sudah diketahui.
Dasar penalaran pun sebaiknya dikerjakan dengan sadar dengan perumusan yang
tepat. Dalam proses penalaran ilmiah tersebut, penentuan masalah mendapat
bentuk perumusan masalah.
- Hipotesis pendahuluan atau hipotesis preliminer (preliminary hypothesis).
Dugaan
atau anggapan sementara yang menjadi pangkal bertolak dari semua kegiatan. Ini
digunakan juga dalam penalaran ilmiah. Tanpa hipotesa preliminer, pengamatan
tidak akan terarah. Fakta
yang terkumpul mungkin tidak akan dapat digunakan untuk menyimpulkan suatu konklusi, karena tidak relevan
dengan masalah
yang dihadapi. Karena tidak dirumuskan secara eksplisit, dalam penelitian,
hipotesis priliminer dianggap bukan hipotesis keseluruhan penelitian,
namun merupakan sebuah hipotesis yang hanya digunakan untuk melakukan uji coba
sebelum penelitian sebenarnya dilaksanakan.
- Pengumpulan fakta.
Dalam
penalaran ilmiah, di antara jumlah fakta yang besarnya tak terbatas itu hanya
dipilih fakta-fakta yang relevan dengan hipotesa preliminer
yang perumusannya didasarkan pada ketelitian dan ketepatan memilih fakta.
- Formulasi hipotesa.
Pembentukan
hipotesa dapat melalui ilham atau intuisi, dimana logika tidak dapat berkata
apa-apa tentang hal ini. Hipotesa diciptakan saat terdapat hubungan tertentu di
antara sejumlah fakta. Sebagai contoh sebuah anekdot
yang jelas menggambarkan sifat penemuan dari hipotesa, diceritakan bahwa sebuah
apel jatuh dari pohon ketika Newton tidur di bawahnya dan teringat olehnya
bahwa semua benda pasti jatuh dan seketika itu pula dilihat hipotesanya, yang
dikenal dengan hukum
gravitasi.
- Pengujian hipotesa
Artinya,
mencocokkan hipotesa dengan keadaan yang dapat diamati
dalam istilah ilmiah hal ini disebut verifikasi
(pembenaran). Apabila hipotesa terbukti cocok dengan fakta maka disebut konfirmasi Falsifikasi (penyalahan)
terjadi jika usaha menemukan fakta dalam pengujian hipotesa tidak sesuai dengan
hipotesa. Bilamana usaha itu tidak berhasil, maka hipotesa tidak terbantah oleh
fakta yang dinamakan koroborasi (corroboration). Hipotesa
yang sering mendapat konfirmasi atau koroborasi dapat disebut teori.
Apabila
hipotesa itu benar dan dapat diadakan menjadi ramalan
(dalam istilah ilmiah disebut prediksi), dan ramalan itu harus
terbukti cocok dengan fakta. Kemudian harus dapat diverifikasikan/koroborasikan
dengan fakta.[6]
Awal terbentuknya hipotesis dalam sebuah
penelitian biasanya diawali atas dasar terkaan atau conjecture peneliti. Meskipun
hipotesis berasal dari terkaan, namun sebuah hipotesis tetap harus dibuat
berdasarkan paca sebuah acuan, yakni teori dan fakta ilmiah.
- Teori Sebagai Acuan Perumusan Hipotesis
Untuk memudahkan proses pembentukan
hipotesis, seorang peneliti biasanya menurunkan sebuah teori menjadi sejumlah
asumsi dan prostulat. Asumsi-asumsi tersebut dapat didefinisikan sebagai
anggapan atau dugaan yang mendasari hipotesis. Berbeda dengan asumsi, hipotesis
yang telah diuji dengan menggunakan data melalui proses penelitian adalah dasar
untuk memperoleh kesimpulan.
- Fakta Ilmiah Sebagai Acuan Perumusan Hipotesis
Selain menggunakn teori sebagai acuan, dalam
merumuskan hipotesis dapat pula menggunakan acuan fakta. Secara umum, fakta
dapat didefinisikan sebagai kebenaran yang dapat diterima oleh nalar dan sesuai
dengan kenyataan yang dapat dikenali dengan panca indera.
Fakta Ilmiah sebagai acuan perumusan
hipotesis dapat diperoleh dengan berbagai cara, misalnya :
- Memperoleh dari sumber aslinya
- Fakta yang diidentifikasi dengan cara menggambarkan dan menafsirkannya dari sumber yang asli.
- Fakta yang diperoleh dari orang mengidentifikasi dengan jalan menyusunnya dalam bentuk abstract reasoning (penalaran abstrak).
Selain teori dan fakta ilmiah, hipotesis
dapat pula dirumuskan berdasarkan beberapa sumber lain, yakni:
- Kebudayaan dimana ilmu atau teori yang relevan dibentuk
- Ilmu yang menghasilkan teori yang relevan
- Analogi
- Reaksi individu terhadap sesuatu dan pengalaman
BAB III
PENUTUP
Hipotesis ini
merupakan suatu jenis proposisi yang dirumuskan sebagai jawaban tentatif atas
suatu masalah dan kemudian diuji secara empiris. Sebagai suatu jenis proposisi,
umumnya hipotesis menyatakan hubungan antara dua atau lebih variabel yang di dalamnya
pernyataan-pernyataan hubungan tersebut telah diformulasikan dalam kerangka teoritis. Hipotesis ini, diturunkan, atau bersumber dari teori dan tinjauan literatur yang berhubungan dengan masalah yang
akan diteliti. Pernyataan hubungan antara variabel, sebagaimana dirumuskan dalam
hipotesis, merupakan hanya merupakan dugaan sementara atas suatu masalah yang
didasarkan pada hubungan yang telah dijelaskan dalam kerangka teori yang
digunakan untuk menjelaskan masalah penelitian. Sebab, teori yang tepat akan menghasilkan hipotesis yang tepat untuk digunakan
sebagai jawaban sementara atas masalah yang diteliti atau dipelajari dalam penelitian. Dalam penelitian kuantitatif peneliti menguji suatu teori. Untuk meguji teori
tersebut, peneliti menguji hipotesis yang diturunkan dari teori.
Agar teori
yang digunakan sebagai dasar penyusunan hipotesis dapat diamati dan diukur
dalam kenyataan sebenarnya, teori tersebut harus dijabarkan ke dalam bentuk
yang nyata yang dapat diamati dan diukur. Cara yang umum digunakan ialah
melalui proses operasionalisasi, yaitu menurunkan tingkat keabstrakan suatu teori
menjadi tingkat yang lebih konkret yang menunjuk fenomena empiris atau ke dalam
bentuk proposisi yang dapat diamati atau dapat diukur.
Proposisi yang dapat diukur atau diamati adalah proposisi yang menyatakan
hubungan antar-variabel. Proposisi seperti inilah yang disebut sebagai
hipotesis.
Jika teori
merupakan pernyataan yang menunjukkan hubungan antar-konsep (pada tingkat abstrak atau teoritis),
hipotesis merupakan pernyataan yang menunjukkan hubungan antar-variabel (dalam
tingkat yang konkret atau empiris). Hipotesis menghubungkan teori dengan
realitas sehingga melalui hipotesis dimungkinkan dilakukan pengujian atas teori
dan bahkan membantu pelaksanaan pengumpulan data yang diperlukan untuk menjawab
permasalahan penelitian. Oleh sebab itu, hipotesis sering disebut sebagai
pernyataan tentang teori dalam bentuk yang dapat diuji (statement of theory in
testable form), atau kadang-kadanag hipotesis didefinisikan sebagai pernyataan
tentatif tentang realitas (tentative statements about reality).
Oleh karena
teori berhubungan dengan hipotesis, merumuskan hipotesis akan sulit jika tidak
memiliki kerangka teori yang menjelaskan fenomena yang diteliti, tidak
mengembangkan proposisi yang tegas tentang masalah penelitian, atau tidak
memiliki kemampuan untuk menggunakan teori yang ada. Kemudian, karena dasar
penyusunan hipotesis yang reliabel dan dapat diuji adalah teori, tingkat
ketepatan hipotesis dalam menduga, menjelaskan, memprediksi suatu fenomena atau
peristiwa atau hubungan antara fenomena yang ditentukan oleh tingkat ketepatan
atau kebenaran teori yang digunakan dan yang disusun dalam kerangka teoritis.
Jadi, sumber hipotesis adalah teori sebagaimana disusun dalam kerangka teoritis.
Karena itu, baik-buruknya suatu hipotesis bergantung pada keadaan relatif dari
teori penelitian mengenai suatu fenomena sosial disebut hipotesis penelitian atau hipotesis kerja.
Dengan kata lain, meskipun lebih sering terjadi bahwa penelitian berlangsung
dari teori ke hipotesis (penelitian deduktif), kadang-kadang sebaliknya yang terjadi.
·
SARAN
Demikian makalah yang dapat kami paparkan. Semoga dapat menambah
wawasan para pembaca. Namun, kami menyadari bahwa makalah ini masih terdapat
banyak kekurangan, baik dari segi bahasa, diksi, maupun kekurangan materi. Maka
dari itu, kritik dan saran anda sangatlah kami butuhkan. Kerena kritik dan
saran tersebut sangat berguna bagi kami untuk menjadi bahan koreksi, agar
makalah kedepan yang kami sajikan menjadi lebih baik. Karena kesalahan itu
pula, kami mohon maaf.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto,
Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta.
Kinayati,Djojosuroto
& M.L.A Sumaryati.2004. Prinsip-prinsip Penelitian Bahasa dan Sastra.
Bandung: Yayasan Nuansa Cendekia.
Moleong,
Lexy.J. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Sugiyono, 1999. Judul : Statistik
Nonparametris Untuk Penelitian. Penerbit Bandung : Alfabeta.
Sugiyono.
2010. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D. Bandung: Alfabeta.
[1]
Ibid, hal. 46
[2] Vardiansyah, Dani. Filsafat Ilmu Komunikasi: Suatu
Pengantar, Indeks, Jakarta 2008. Hal.10
[3] Masri Singarimbun dan Sofian Effendi, penyunting. 1989.
Metode Penelitian Survei. Jakarta: LP3ES, hal. 5.
[4] Suharsimi Arikunto.1996. Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktik. Jakarta: Bina Aksara, hal. 64.
[5] Logika Dasar, tradisional, simbolik, dan induktif.
Soekadijo.R.G. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 1993
[6] Logika Dasar, tradisional, simbolik, dan induktif.
Soekadijo.R.G. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 1993
0 komentar:
Posting Komentar