add photo addesign_zpsiq3s6vyk.gif

Jumat, 08 Januari 2016

Fikih Muamalah dan Fikih Ibadah

BY Ahmad Wasmari No comments

Hukum asal fikih muamalah dan fikih ibadah. Begini cara memahaminya. Ternyata sederhana.
Al ashlu fil mu’aamalati al ibaahah illaa an yadullu daliilun ‘alaa tahriimihaaatau hukum asal dari fikih muamalah adalah boleh, kecuali ada dalil yang menunjukkan larangannya.
Jadi, kalau kita ingin memahami dan memahamkan boleh atau tidaknya aktivitas terkait muamalah, cukup pahami dan cermati larangannya, selebihnya boleh dilakukan.
Boleh kreatif dalam muamalah. Boleh inovatif dalam muamalah.
Jika ingin melarang-larang dalam hal muamalah, maka wajib ada dalil larangannya. Jika ingin melakukan hal baru dalam muamalah, bisa jadi sangat tidak perlu dalil.
Misalnya, di masa Rasulullah Saw, itu tidak ada bank syariah, maka keberadaan bank syariah sekarang ini tidak penting, ada dalilnya. namun, menjadi penting ada dalil ketika membahas larangan dalam perbankan.
Hukum asal Fikih Ibadah
Al ashlu fil ‘ibaadaati at tahriim atau hukum asal dari fikih ibadah adalah haram (sampai ada perintahnya).
Al ashlu fil ‘ibaadaati at tawaqquf atau hukum asal dari fikih ibadah adalah diam atau berhenti (sampai ada perintahnya).
Jadi, kalau kita ingin memahami dan memahamkan boleh atau tidaknya aktivitas terkait ibadah, cukup pahami dan cermati perintahnya, selebihnya haram dilakukan.
Tidak boleh kreatif dalam ibadah dan tidak boleh inovatif dalam ibadah.
Jika ingin memboleh-bolehkan ibadah, maka wajib ada dalil perintahnya.
Misalnya shalat subuh itu perintahnya hanya 2 rakaat, ya sudah 2 rakaat saja. Jangan menawar lebih atau kurang.
Mengingat hukum asal muamalah dan fikih ibadah tersebut, tetap memunculkan ijtihad-ijtihad tertentu. Dicermati saja dan silahkan ikut ulama atau dewan yang kredibel, tidak sekadar ulama dewean (sendirian). Wallaahu a’lamu bishshowaab.
Ahmad Ifham | DPP Ikatan Ahli Ekonomi Islam – IAEI

0 komentar:

Posting Komentar

 photo addesign_zpsmuohilya.gif